Struktur Organisasi

Posted: September 22, 2010 in Teknik Industri

Struktur organisasi mendefinisikan cara tugas pekerjaan dibagi, dikelompokkan , dan dikoordinasikan secara formal (Robbins, 2006).

Enam unsur kunci yang perlu disampaikan ke manajer ketika mereka merancang struktur organisasi adalah :

1. Spesialisasi kerja

Istilah spesialisasi kerja atau pembagian kerja digunakan mendeskripsikan sampai tingkat mana tugas dalam organisasi dipecah-pecah menjadi pekerjaan-pekerjaan yang terpisah.hakikat spesialisasi kerja adalah seluruh pekerjaan itu dipecah-pecah menjadi sejumlah langkah, dengan tiap langkah diselesaikan oleh individu yang berlainan.

2. Departementalisasi

Setelah adanya spesialisasi kerja, pekerjaan-pekerjaan tersebut perlu dikelompokkan sehingga tugas yang sama/mirip dapat dikoordinasikan. Dasar yang dipakai adalah departementalisasi. Tipe-tipe departementalisasi adalah :

a. Departementalisasi menurut fungsi

Salah satu cara paling populer untuk mengelompokkan kegiatan adalah menurut fungsi yang dijalankan. Departementalisasi menurut fungsi dapat digunakan dalam semua jenis organisasi, namun fungsi-funsinya berubah agar dapat mencerminkan sasaran dan kegiatan organisasi itu. Keunggulan utama dari tipe ini adalah tercapainya efisiensi dengan mengumpulkan spesialis yang sama. Departementalisasi fungsional mengusahakan tercapainya skala ekonomi dengan menemptkan orang dengan keterampilan dan orientasi yang sama ke dalam unit-unit bersama.

b. Departementalisasi berdasarkan jenis produk

Setiap produk utama akan ditempatkan di bawah wewenang eksekutif tertentu yang akan menyelesaikan tanggung jawab global untuk produk tersebut. Keuntungan utama dari tipe ini adalah meningkatnya tanggung jawab atas kinerja produk, karena semua kegiatan yang terkait dengan produk spesifik berada di bawah pengarahan manajer tunggal.

c. Departementalisasi berdasarkan geografi atau teritori

Fungsi penjualan, misalnya mungkin mempunyai kawasan barat, selatan, barat-tengah, dan timur. Dengan demikian tiap kawasan ini merupakan departemen yang diorganisasikan berdasar lingkup geografi.

d. Departementalisasi berdasarkan proses

Setiap departemen berspesialisasi pada satu fase khusus dalam produksi produk tertentu. Karena setiap proses menuntut keterampilan yang berlainan, metode ini menjadi dasar untuk kategorisasi secara homogen atas kegiatan. Contoh produksi di pabrik tabung alumunium yang diorganisasikan ke dalam lima departemen yaitu departemen pengecoran, pencetakan, pembuatan tabung, finishing dan inspeksi, pengemasan dan pengiriman.

e. Departementalisasi berdasarkan pelanggan yang ingin dicapai

Asumsi yang melandasi departementalisasi pelanggan adalah bahwa pelanggan di masing-masing departemen memiliki serangkaian masalah bersama dan kebutuhan-kebutuhan bersama yang dapat sangat baik dicapai dengan memiliki spesialis untuk masing-masingnya.

3. Rantai komando

Rantai komando merupakan garis wewenang yang tidak terputus-putus yang terentang dari puncak organisasi ke eselon terbawah dan memperjelas siapa melapor ke siapa.

4. Rentang Kendali

Rentang kendali merupakan jumlah bawahan yang dapat diatur manajer secara efektif dan efisien. Kecenderungan dalam tahun-tahun terakhir ini adalah ke arah rentang kendali yang lebih lebar karena rentang kendali ini konsisten dengan upaya perusahaan untuk mengurangi biaya, menekan overhead, mempercepat pengambilan keputusan, meningkatkan keluwesan, mendekatkan diri pada pelanggan dan memberdayakan para karyawan.

5. Sentralisasi dan desentralisasi

Istilah sentralisasi mengacu pada sampai tingkat mana pengambilan keputusan dipusatkan pada titik tunggal dalam organisasi. Jika manajeman puncak mengambil keputusan utama perusahaan dengan sedikit atau tanpa masukan dari personil tingkat bawah, maka perusahaan itu makin tersentralisasi. Sebaliknya, makin banyak personil tingkat bawah memberikan masukan atau diberi keleluasaan untuk mengambil keputusan, maka perusahaan semakin desentralisasi.

6. formalisasi

Formalisasi mengacu pada tingkat mana pekerjaan di dalam perusahaan dibakukan. Pada formalitas yang tinggi, terdapat uraian jabatan yang tersurat, banyak aturan organisasi dan prosedur yang terdefinisi dengan jelas yang meliputi proses kerja dalam organisasi. Sebaliknya dalam formalitas rendah, perilaku kerja relatif tidak terprogram dan para karyawan mempunyai banyak kebebasan untuk menjalankan keleluasaan dalam kerja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s